03 Jun 2013

Era globalisasi sedang berlangsung dan bergulir di dalam kehidupan kita. Era yang merupakan peradaban ‘gelombang ketiga’ pasca industri ini ditandai dengan kemajuan yang sangat pesat, terutama dalam bidang teknologi informasi dan transportasi udara. Globalisasi juga merupakan proses dimana masyarakat dunia menjadi semakin berhubungan satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupannya, baik sosial budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan. Dunia, lebih dari sebelum-sebelumnya, telah berubah menjadi sebuah pasar global tidak saja untuk barang dan jasa, tetapi juga untuk ide, pikiran, kreasi seni dan budaya.

Pola pikir serta pola tindak pun mengalami perubahan, seiring derasnya arus informasi yang diterima. Betapa tidak, pesatnya perkembangan teknologi media komunikasi, mengakibatkan terbuka serta progresifnya informasi, yang mampu menembus ruang publik maupun pribadi, dengan memiliki kecenderungan tanpa filterisasi. Kondisi demikian harus dicermati secara seksama, agar arus informasi dapat dimanfaatkan guna kepentingan pengembangan diri, baik dalam skala pribadi maupun sebagai bangsa yang berdaulat.

 

KONTEKS

Implikasi dari perkembangan sebagaimana dijelaskan di atas, masyarakat secara sadar atau pun tidak, sengaja ataupun tidak, mengembangkan pandangan, norma-norma dan kebiasan baru dalam berperilaku. Gilirannya kemudian muncul pengertian baru mengenai apa itu bekerja. Telah terjadi pergeseran orientasi dan motivasi bekerja yang tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan nafkah, tetapi disertai dengan aktualisasi diri.

Melihatnya dari dimensi lain, terutama dalam konteks pendekatan sosial budaya, perkembangan teknologi informasi menjadi suatu komoditi dagang yang digunakan negara-negara maju sebagai sebuah pendekatan soft power. Pendekatan ini memanfaatkan teknologi informasi sebagai media untuk penjalaran ide, cara kerja, gaya hidup dan kreasi seni. Bentuk konkritnya bisa berupa film (budaya) atau musik (lagu dan tarian), yang masuk secara cepat ke dalam kehidupan bermasyarakat. Dan akhirnya terjadi inkulturasi besar-besaran berkenaan nilai dan hal-hal baru yang dapat merubah berbagai tatanan kemasyarakatan, termasuk di dalamnya ketenagakerjaan. Sekurang-kurangnya terjadi perubahan pandangan dan situasi berkenaan hal-hal berikut: budaya kerja (disiplin dan etos kerja), kemandirian,  konsumerisme, pergerakan tenaga kerja yang juga melintasi batas wilayah dan antar negara (Tenaga Kerja Asing/TKA dan Tenaga kerja Indonesia/TKI), dimana terjadi juga ketimpangan dalam hal pendapatan tenaga kerja, eksploitasi tenaga kerja dalam hubungan kerja dengan skema outsourcing dan sebagainya. Untuk itu perlu dilakukan mitigasi dan langkah antisipasi agar dampak yang ditimbulkan bersifat konstruktif dan kondusif bagai kedaulatan dan ketahanan negara.

 

PERKEMBANGAN

Sebagaimana alur berpikir di atas, perkembangan teknologi informasi, transportasi dan gerakan soft power telah mengubah tatanan dan pola produksi, perdagangan dan investasi, terutama di perusahaan-perusahaan multinasional.  Globalisasi mengakibatkan terjadinya perubahan  kebijakan perdagangan dan investasi dengan memberikan ruang gerak yang lebih luas agar modal, teknologi dan tenaga kerja dapat berpindah dengan mudah antar wilayah negara. Hal ini berdampak pada berbagai perubahan paradigma, perilaku dan sistem alokasi sumber daya ekonomi, sebagai berikut:

Pertama, pergeseran budaya kerja dan pola belanja pekerja. Penjalaran informasi terkait sistem tata nilai, tata kerja dalam era globalisasi begitu massif menyebar dengan tampilan audio visual yang sangat menarik. Sejalan dengannya muncul perkembangan teknologi baru mesin pencari informasi di internet, yakni google, membuat tenaga kerja dapat dengan mudah dan cepat  mengakses informasi yang dibutuhkan. Konsekuensi dari hal ini dapat berdampak positif maupun negatif, mengingat dalam konteks globalisasi, pekerja bisa menjadi subyek sekaligus obyek. Dalam kapasitas sebagai subyek, dengan tingkat persaingan antar individu yang tinggi, pekerja diharuskan melakukan pekerjaan secara cerdas, sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang berdampak pada peningkatan value bagi dirinya. Di sisi lain, sebagai obyek, pekerja juga merupakan pasar dari globalisasi yang dilanda konsumerisme akibat kecanggihan promosi (materi, kemasan dan penyampaian). Gerakan ini secara masif  melanda masyarakat, termasuk di dalamnya pekerja, tanpa pandang bulu. Untuk itu perlu diperkuat pemahaman dan motivasi bekerja yang dapat secara internal melakukan ‘self assesment’ terhadap kebutuhannya, sehingga tidak terjebak kepada ‘kepemilikan’  akan sesuatu yang mubazir tetapi lebih fungsional.

Kedua, mobilitas tenaga kerja asing dengan tingkat upah yang lebih tinggi. Dunia usaha merupakan salah satu aspek yang sangat berperan penting di dalam penyerapan tenaga kerja. Terjadi pergerakan tenaga kerja dari luar ke Indonesia (TKA) karena kebutuhan akan kualifikasi khusus dan/atau melekat dengan perjanjian operasional perusahaan multinasional. Disisi lain masih terdapat pandangan bahwa tenaga kerja asing itu jauh lebih kompeten. Oleh karena itu penghargaan terhadap mereka juga lebih tinggi. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan serta berpotensi menimbulkan kerawanan dan kecemburuan sosial. Apalagi jika keberadaan mereka ini tidak disertai dengan perilaku yang terpuji, seperti cenderung bersikap arogan. Untuk itu diperlukan kebijakan pemerintah yang difokuskan kepada pengendalian tenaga kerja asing, terkait jumlah, komposisi, jabatan serta tingkat upah, disertai dengan kriteria seleksi yang komprehensif termasuk sertifikasi profesi. Ukuran kompetensinya tidak terbatas hanya pada pengetahuan dan ketrampilan, tetapi juga sikap dan cara bekerja. Diharapkan terjadi transformasi cara kerja, disiplin, etos yang positif serta dilaksanakan secara berkesinambungan dan terpadu oleh para pemangku kepentingan.

Ketiga, potensi eksploitasi tenaga kerja dalam bentuk skema outsourcing. Perkembangan lain dalam hubungan dengan ketenagakerjaan adalah konsep outsourcing. Dalam tataran normatif, konsep ini sangat baik karena dapat membantu perusahaan dalam mencapai efektifitas dan efisiensi operasionalnya. Namun dalam prakteknya, banyak terjadi penyimpangan atas skema hubungan ini yang berdampak pada terjadinya eksploitasi pekerja dan bertolak belakang dengan norma. Hal ini disebabkan, karena konsep ini di luar tatanan hubungan industrial Pancasila, pelaksanaan yang tidak terkendali secara baik oleh Pemerintah. Efektifitas outsourcing hanya dapat tercapai oleh kondisi infrastruktur hukum yang jelas, integritas pelaksana dan pengawas, serta dengan mindset yang sebesar-besarnya untuk mensejahterakan tenaga kerja Indonesia.

 

KESIMPULAN

Inkulturasi budaya asing dalam  bekerja harus disikapi secara cermat agar dampak negatifnya dapat dicegah. Beberapa dampak negatif tersebut, yakni: perilaku konsumerisme serta hedonisme-individualistik. Perlu digali kembali mental dasar pengembangan pribadi dan pekerja Indonesia yang mengutamakan nilai musyawarah, gotong royong, mandiri, bekerja keras serta memiliki budaya hemat.

Dalam konteks global dengan perkembangan usaha serta membanjirnya perusahaan multinasional, mobilitas tenaga kerja asing sangat dimungkinkan, bahkan merupakan keniscayaan. Untuk itu keberadaannya harus dikendalikan dengan perangkat hukum yang jelas, disamping adanya perangkat nilai luhur Indonesia yang kontekstual dan siap operasional, agar proses pembauran dengan unsur-unsur asing atau baru bisa berjalan secara baik tanpa gejolak yang kontraproduktif.

Dilihat dengan kacamata konsep hubungan industrial Pancasila, skema hubungan outsourcing bukan merupakan hubungan ketenagakerjaan yang ideal. Namun agar menjadi unsur pengembangan ketenagakerjaan yang baik dan menjadi salah satu alternatif dalam menjalankan operasional perusahaan, maka diperlukan pemahaman perlakuan skema outsourcing yang relatif sama dan benar. Dalam hal ini, terutama berupa penghargaannya terhadap pekerja anak bangsa agar tidak terjadi eksploitasi oleh bangsa sendiri, sebagai akibat dari salah menyikapi dinamika supply and demand ketenagakerjaan. ****

Visitors

  • Total Visitors: 265955